SELAYANG PANDANG
Oleh : Dwi YuliKaryanto
Tabik Pun .....................
Negeri kecil bukan berarti harus diinjak - injak, sebab daerahmu juga daerah ku, mereka dan banyak yang lain sehingga butuh saling sapa sebab sijoko punya selera yang beda dengan yang lain oleh sebabnya dia pura - pura tuli dan seolah tidak mengerti kepada tetangganya , dia terkadang lupa dengan apa yang menjadi tujuan sebab jalanpun terputus karena kemungkinan sudah tak bersahabat kepada kita .
Membuat sebuah masalah menjadi kewajiban dalam hidup sepertinya, dan banyak sarjana yang memilih membisu sebab watak dan karakter menyatu membuat matahari terjatuh, dan ketika saatnya membuat jalan kehidupan terbuka, maka seperti halnya sibelanda minta tanah selalu kurang dan perjanjianpun terlanggar sebab tak mengenal duka tetangganya yang juga ingin mengeruk hasil dan untung besar buat diri sendiri .
Laut menangis turut didera sebuah derita, merintih nyaris tak terdengar, namun dikejauhan terasa rintihan akan lebih kencang, semua diam menonton, melotot dan sembari menjilat es cream yang begitu lunak dibibir, selama inipun tak ada satupun yang mampu membuat laut menangis baru sijoko karena impian yang membahana ibarat sang gadis sedang dagelan dengan baju baru dihari ulang tahunya .
Tidak ada yang peduli dengan diri sendiri, rumah sendiri bahkan nyawa sendiri terasa terlepas dari sejatinya jasad yang perkasa, namun ketika keperkasaan sang pemilik sangkakala hilang tersimpan dalam toilet kecil disudut kantor, lidah mereka terlulur, lalu mulut mereka serasa dijait, kaki dan tangan seolah terikat kuat demi menuruti sang penjaga kuburan yang sedang mengikuti selera dan ibarat sedang memakan air mendidih dan memakan daging yang seolah turun dari langit, dirinya tak sadar bahkan hilang kesadaran dirinya sebab hatipun tertanggal disebuah pautan hati yang selama ini menyiksa bathin, menyiksa pikiran sehingga membuat gelap hari dan matahari yang sudah menyinari selama hidup .
Tak banyak yang bersuara, namun mereka diam bukan tak tau sehingga para pengikut si bajak lautpun meresa hidup tak berkeadilan, sebab setiap hasilpun tak terbagi dan menghilang seolah lenyap ditelan bumi, membuat hidup para penjajah lokal merupakan permainan yang mengasyikan sebab para maling igin tak dikenal apa yang dicurinya, sebab selamnya tupai melompat pasti akan jatuh juga .
bersambung .....................


Tidak ada komentar:
Posting Komentar